Rabu

Tante Yuli

Hari itu aku sedang sibuk menyelesaikan salah satu proyekku untuk sebuah perusahaan tekstil. Iseng-iseng untuk refreshing, aku buka e-mailku, dan membalas e-mail yang masuk. Ada beberapa e-mail ucapan terimakasih dari mereka yang telah sukses mengikuti langkahku menggeluti bisnis wiraswasta ini. Ada juga e-mail dari calon pelanggan meminta proposal. Juga ada beberapa e-mail joke dari teman-temanku.

Untuk pembaca yang belum mengikuti ceritaku sebelumnya yang berjudul “Beli Mobil Berbonus Seks”, mungkin ada baiknya aku ceritakan sedikit latar belakangku. Namaku Wawan. Aku mahasiswa tahap akhir di sebuah PTS di Jakarta. Di samping kuliah, akupun berwiraswasta, berkat ajakan dari temanku yang telah sukses sebelumnya. Berkat bisnisku ini, kehidupan ekonomiku sudah jauh lebih membaik dibandingkan sebelumnya. Akupun tak minder lagi bila berkunjung ke rumah pacarku yang anak orang kaya itu.

Sedang asyik-asyiknya membaca dan membalas e-mail, tiba-tiba HPku berbunyi..

“Yang.., sedang apa nih? Aku kangen..” suara Monika pacarku terdengar di ujung sana.
“Hai Mon.., biasa sedang nyelesaiin kerjaan nih. Kamu masih kuliah ya?”
“Iya.. Lagi nunggu kelas berikutnya. Nanti malam jadi khan?”
“Pasti donk.. Aku juga kangen banget sama kamu..” jawabku mesra.
“Iya deh.. Udah dulu ya yang.. Dosennya udah datang.. Bye..”

Aku pun kemudian melanjutkan membalas e-mail. Setelah itu, kututup program e-mailku, dan akupun kembali mengerjakan proyekku. Lagi-lagi HP-ku berbunyi. Kulihat di layar, ternyata tante Sonya menelponku.

“Halo Wan.., apa kabar sayang?”
“Baik tante..”
“Kamu kok udah beberapa hari ini nggak main ke sini? Sedang sibuk ya?”
“Iya tante..”
“Sombong ya.. Mentang-mentang banyak proyek lupa sama tante..”
“Nggak tante.. Kan..”

Belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, tante Sonya sudah memotong pembicaraanku..

“Wan.. Tante punya teman.. Dia katanya punya proyek buat kamu. Kamu hubungi dia hari ini ya..”
“Baik tante..”

Tante Sonyapun kemudian memberikan nama dan alamat serta nomor telepon temannya.

“Asal jangan lupa kamu harus ke sini besok. Tante sudah kengen..”
“OK tante.. Terimakasih ya. Besok pasti Wawan ke sana. Kangen juga sama tante yang seksi abis..” jawabku bercanda.
“Ih.. Kamu nakal ya.. Awas ya besok..” jawabnya sambil tertawa kecil.

Memang aku sudah ketagihan berhubungan seks dengan tante Sonya. Semenjak bertemu saat membeli mobilnya dulu, seringkali kami tetap bertemu dan saling memuaskan birahi masing-masing. Sebagai lelaki normal, siapa juga yang akan menolak diajak berselingkuh dengan tante secantik itu.

Sambil memegang secarik kertas berisi nama teman tante Sonya, akupun berpikir apakah aku masih punya waktu untuk menerima proyek baru lagi. Sebab setelah proyek untuk perusahaan tekstil ini masih ada dua proyek lagi yang harus aku selesaikan. Tetapi kupikir aku terima saja, nanti kalau tidak bisa mengerjakannya sendiri, aku bisa minta tolong temanku yang dulu mengenalkanku pada bisnis ini untuk membantu. Alternatif lain, aku bisa minta deadline yang agak panjang dari teman tante Sonya ini.

Singkat cerita, sore itu aku segera bergegas menuju alamat sebuah gallery di kawasan Kemang. Setelah mengutarakan maksud kedatanganku pada satpam yang membuka pintu, akupun memasukkan mobilku ke dalam pekarangan gallery yang luas itu.

“Sore.. Saya ingin bertemu dengan ibu Yulia..”
“Oh.. Ya silakan tunggu dulu ya Mas.. Namanya siapa darimana?” jawab resepsionis di gallery itu.
“Wawan.. Saya sudah punya janji kok”

Resepsionis itupun kemudian menelepon, dan setelah itu berujar..

“Mari Mas, saya antar ke dalam”

Kamipun menuju ruang kantor ibu Yulia sambil melewati ruang gallery. Gallery tersebut indah sekali dengan banyaknya lukisan yang bagus-bagus diterpa lampu sorot sehingga menambah keindahannya.

“Permisi Bu.. Ini Mas Wawan” kata si resepsionis setelah kami memasuki ruangan kantor ibu Yulia.

Kuperhatikan ternyata ibu Yulia ini masih muda, mungkin sekitar 30 tahunan. Wajahnya cantik dan berkulit putih mulus. Saat itu dia memakai gaun dengan tali tipis di pundaknya, serta syal yang melingkar indah di lehernya yang jenjang. Gaun itu tampak tak sanggup menahan payudaranya yang membusung padat. Ditambah dengan gaun mininya yang memperlihatkan kakinya yang mulus, menambah darah mudaku bergejolak melihatnya.

“Hai Wawan.. Saya Yulia”

Kurasakan tangannya yang lentik itu halus menjabat tanganku.

“Ayo silakan duduk..” katanya mempersilakanku duduk di sofa dalam ruangan kantornya.

Ibu Yuliapun kemudian duduk di seberangku. Kamipun berbincang basa-basi sebentar. Ternyata dia adalah teman fitness tante Sonya. Tante Sonya telah bercerita banyak tentangku termasuk bisnisku.

Kamipun kemudian berbincang lebih serius mengenai bisnisku. Untuk melihat penjelasanku yang menggunakan notebook, ibu Yuliapun pindah duduk di sebelahku. Tubuhnya menyebarkan wangi parfum yang lembut, menambah bergejolaknya nafsu kelelakianku. Sambil berbincang, sesekali kulihat belahan payudaranya yang putih mulus tersembul dari gaunnya. Ingin rasanya kuremas payudaranya yang menggemaskan itu, tetapi aku tentu harus bersikap professional.

Singkat kata, ibu Yulia tertarik dan menyetujui harga yang kuminta. Iapun memintaku untuk menyiapkan kontrak kerja untuk disetujui bersama.

“Tapi saya minta sedikit kelonggaran waktu ya Bu.. Soalnya saya masih ada beberapa proyek yang harus diselesaikan” kataku.
“Oh.. Begitu ya.. Berapa lama punya saya selesainya?”
“Kira-kira satu bulan ya Bu..”
“Ok deh.. Nggak apa..” katanya
“Oh ya kamu mau minum apa Wan?”
“Apa aja deh..”

Ibu Yulia pun kemudian menelepon pembantunya dan meminta dua orange juice.

“Kamu masih kuliah ya Wan”
“Masih Bu.. Tahap akhir”
“Oh.. Kamu jangan panggil saya Bu.. Saya masih muda lho.. Panggil saja tante”
“Oh iya tante”

Akupun terenyum dalam hati. Persis pengalamanku dengan tante Sonya dulu yang tidak mau dipanggil ibu. Pembantu tante Yulia kemudian masuk menyajikan minuman.

“Ayo diminum Wan” kata tante Yulia saat si pembantu beranjak pergi.

Tante Yulia lalu bangkit mengikuti pembantunya kemudian menutup pintu ruang kantor dan menguncinya. Kembali tante Yulia duduk di sebelahku sambil meminum orange juicenya. Pahanya yang putih mulus tampak begitu menggoda saat dia menumpangkan kakinya. Akupun tak tahan untuk tidak melihat pemandangan indah itu.

“Sedang lihat apa Wan?” katanya sambil tersenyum manis.
“Oh nggak kok tante..”
“Ayo kamu sedang mikir yang jorok ya..” katanya lagi menggoda.
“Nggak kok tante.. Cuma kagum aja.. Habis tante cantik banget..”
“Ih.. Kamu genit juga ya.. Pinter merayu” godanya lagi.

Tangannya kemudian meraih tanganku dan diletakkannya di atas pahanya.

“Kamu pengin ini kan?” sambil berkata begitu tante Yulia mendekatkan wajahnya dan mencium bibirku.

Tak kuat menahan nafsu yang sedari tadi telah bergolak, kubalas ciuman tante Yulia dengan penuh gairah. Sambil berciuman, kuremas dan kuusap pahanya yang mulus itu, sementara tanganku yang lain mengusap-usap rambutnya.

“Ehh..” erang tante Yulia ketika tanganku menyentuh celana dalamnya yang telah basah.

Erangannya makin menjadi-jadi ketika tanganku menyibakkan celana dalam itu dan menemukan klitorisnya. Kuusap-usap klitoris tante cantik ini, dan cairan vaginanya semakin mengucur deras.

“Ahh.. Enak Wan.. Memang betul kata Sonya kamu hebat.. Terus Wan” erangnya lebih lanjut.

Sementara tanganku masih mengusap-usap vaginanya, akupun menciumi pundak putih tante Yulia. Kemudian kuturunkan tali gaunnya sehingga payudaranya tampak meskipun masih terbungkus BH. Kuturunkan cup BH-nya dan payudaranya yang padat meloncat keluar seperti menantangku untuk menghisapnya. Langsung kuterkam payudara kenyal itu dan kuisap serta kujilati putingnya yang berwarna merah muda.

“Ahh.. Yess.. I like it.. Oh god..” erangan tante Yulia semakin menjadi memenuhi ruangan kantor itu.

Terus kujilati puting yang semakin mengeras itu, dan tanganku yang satu masih terus memberikan kenikmatan pada klitorisnya.

“Oh Wan.. Yes.. Terus wan.. Oh.. God” racau tante Yulia merasakan nikmat yang kuberikan.

Setelah itu aku menghentikan sejenak aktifitasku. Tampak wajah tante menampakkan kekecewaannya

“Wan.. Don’t stop please.. Ayo terusin wan..” pintanya
“Takut ketahuan tante.. Emang nggak ada siapa-siapa nih?” kataku sambil menciumi wajahnya yang cantik.
“Nggak ada.. Cuma pembantu sama satpam aja.. Mereka juga nggak akan tahu.”
“Suami tante?”
“Nggak ada.. Sedang ke luar negeri.. Ayo Wan.. Puasin tante ya sayang..” katanya sambil mendorong kepalaku ke arah payudaranya yang montok itu.

Kuisap dan kukulum puting payudara tante Yulia. Bergantian kuhisap sepasang payudaranya. Tante Yulia kembali mengerang dan badannyapun menggeliat menahan nikmat.

Setelah puas menikmati payudara montok tante Yulia, akupun mengangkat gaunnya sehingga tampak celana dalam mininya yang seksi berenda. Kulepas celana dalam itu, sehingga tampak vaginanya yang bersih tak berbulu sedikitpun. Langsung kujilati dan kuciumi vagina tante Yulia, sehingga tubuhnya agak melonjak dari sofa.

“Ahh.. Wan.. Yes.. Ohh..” erang tante Yulia. Sambil mengerang, tubuhnya tampak sedikit melengkung ke belakang menahan nikmat. Tangannya tampak meremas-remas payudaranya sendiri.

Kubuka lebih lebar paha tante Yulia, dan kujilati dan kadang kugigit perlahan klitorisnya. Sementara tanganku menggantikan tangannya untuk meremas-remas sepasang payudaranya yang kenyal itu. Ruangan semakin dipenuhi oleh erangan tante Yulia, dan juga bunyi sofa karena gerakan tubuhnya yang mengeliat-geliat nikmat.

Tiba-tiba HP tante Yulia berbunyi. Kamipun tak mempedulikannya dan aku terus memberikan kenikmatan oral pada tante yang cantik ini. Tetapi bunyi HP terus berbunyi..

“Shit.!!” maki tante Yulia.
“Sebentar ya Wan.”

Tante Yulia pun bangkit dari sofa dan berjalan ke meja kerjanya. Diraihnya HP dan dijawabnya dengan nada kesal.

“Ya.. Ada apa?”
“Aku baik-baik aja dear.., sedang sibuk untuk pameran minggu depan” jawabnya sambil kembali duduk di sofa.
“Kamu sendiri gimana di Kuala Lumpur?” sambil berkata begitu tangan tante Yulia meraih kepalaku yang masih berjongkok di depan sofa dan mendorong ke arah tubuhnya.

Akupun mengerti kemauannya. Kembali kusibakkan gaunnya dan mulutku kembali menciumi dan menghisapi bibir vaginanya. Kemudian kutelusuri vaginanya dengan lidahku, untuk kemudian kuhisap-hisap kembali klitorisnya.

“Iya dear.. Hmm.. Udah dulu ya.. Aku banyak kerjaan nih.. I love you..” sambil berbicara tangannya mengusap-usap rambutku.

Kulihat tante Yulia menggigit bibirnya sendiri menahan erangannya, agar suaminya di ujung telepon tidak curiga.

“Iya.. Nggak apa.. Aku bisa jaga diri kok.. Ok.. Bye dear..” setelah menutup HP-nya, erangan tante Yulia yang tadi terpaksa ditahannya langsung meledak.
“Oh.. God.. Terus Wan.. Yes..” Semakin cepat kujilati klitoris tante Yulia.
“Ahh.. Wan.. Kamu hebat.. Aku keluar Wan.. Ohh..my godd..”

Tubuh tante Yulia mengelinjang hebat dan cairan vaginanya semakin mengucur banyak. Terus kuhisap dan kuciumi vagina indah tante Yulia yang cantik ini, sampai tubuhnyapun lemas terhempas di atas sofa. Kuraih tisu di atas meja dan kubersihkan mulutku dari cairan nikmat tante Yulia. Kemudian kuhabiskan sisa orange juiceku, dan kuambil dan kuberikan orange juicenya.

“Minum dulu tante” kataku.
“Thank you Wan.., aduh belum pernah tante orgasme kayak tadi.. Kamu benar-benar laki-laki Wan..” Lalu diteguknya orange juicenya sampai habis.
“Sekarang giliran kamu ya..” katanya

Dimintanya aku berdiri di depannya. Tante Yulia yang masih duduk di sofa lalu membuka celana panjangku. Aku pun membuka kemejaku, dan tak lama akupun tinggal bercelana dalam di depannya.

“Kata Sonya punyamu besar ya Wan” katanya sambil tersenyum menggoda.

Tangannya kemudian menanggalkan celana dalamku, dan penisku yang memang lumayan besar itupun mencuat keluar dengan gagahnya sampai hampir mengenai wajahnya yang cantik.

“Oh.. God.., besar banget Wan.., I like it..” katanya sambil mengelus-elus kemaluanku dengan jemari tangannya yang lentik.

Sambil mengocok perlahan penisku, wajah tante Yulia mendekat dan tak lama lidahnya telah menjilati batang penisku.

“Ah.. Tante..” erangku ketika kepala penisku dijilatinya.

Sambil menjilati kepala penisku, tante Yulia meremas-remas buah zakarku sambil matanya menatapku nakal menggoda. Kemudian dibukanya mulut mungilnya dan dikulumnya penisku. Rasa nikmat menjalar ke seluruh tubuhku ketika tante Yulia menggerakkan kepalanya maju mundur menghisapi penisku. Kuremas-remas kepalanya sambil merasakan kehangatan mulut tante muda yang cantik ini.

Tampak tante Yulia begitu menikmati penisku. Dihisap, dijilati dan diremasnya penisku dengan penuh gairah. Sesekali gumaman nikmat terdengar dari mulutnya saat dia mengulum penisku. Sedangkan erangankupun semakin keras terdengar memenuhi ruangan kantor gallery itu.

“Now.. Please fuck me Wan.. Aku pengin ngerasain barangmu yang gede itu.” katanya sambil bangkit berdiri.

Dia pun kemudian berbalik membelakangiku. Kuciumi lagi pundaknya dan kuremas payudaranya. Kemudian tante Yulia memposisikan dirinya sehingga dia menungging di atas sofa tamu. Kusibakkan gaunnya dan kuarahkan penisku ke liang vaginanya.

“Oh.. God..” erangnya ketika kepala penisku mulai masuk menyesaki liang vaginanya yang sempit. Kudorong tubuhku sehingga peniskupun masuk lebih dalam, dan mulai kupompa vagina tante muda ini.
“Ahh.. Yes.. Fuck me.. Fuck me.. Yes.. Yes..” erang tante Yulia setengah menjerit. Payudaranya tampak bergoyang-goyang menggemaskan karena gerakan tubuhnya. Jepitan vagina sempit tante Yulia terasa begitu nikmat di sepanjang penisku. Sambil memompa tubuhnya, sesekali kuremas payudaranya yang menggantung menggemaskan.

Setelah beberapa menit kami bersetubuh dengan doggy-style, akupun kemudian duduk di sofa. Tante Yulia segera menaiki tubuhku dan kami kembali bersetubuh dengan duduk saling berhadapan. Dengan posisi ini, aku leluasa untuk kembali menikmati payudaranya yang montok itu. Tante Yulia menaik-turunkan tubuhnya di pangkuanku, dan tanganku meremas-remas pantatnya yang bulat dan padat.

“Wan.. Wan.. Aku hampir keluar lagi wan.. Oh.. God..” erang tante cantik ini.

Aku lalu kembali menghisapi payudaranya sambil tanganku mendekap erat punggungnya. Sambil tanganku yang lain memegang erat pantatnya, aku lalu menggenjot cepat penisku dalam liang vaginanya.

“Ahh.. Ahh.. God.. God.. Ahh..” jerit tante Yulia mendapatkan orgasmenya yang kedua.

Butir keringat tampak mengalir membasahi wajahnya yang cantik dan sebagian menetes ke payudaranya yang indah. Akupun terus menggenjot tubuhnya dan tak lama akupun merasa akan segera menyemburkan spermaku dalam liang vaginanya.

“Hmmhh..” erangku tertahan saat orgasme, karena mulutku masih menghisapi payudara tante Yulia.

Banyak sekali spermaku yang menyembur ke dalam vagina tante Yulia. Mungkin karena aku begitu terangsang melihat wajahnya yang cantik serta bodynya yang seksi. Setelah itu akupun melepaskan dekapan eratku di tubuh tante cantik pemilik gallery ini. Tubuhnyapun rubuh lemas di samping tubuhku.

“Tante puas banget Wan.. Belum pernah dapat yang seperti tadi dari suami tante”
“Wawan juga puas banget tante. Tante cantik banget sih”
“Ih.. Kamu bisa aja” jawabnya sambil mencubit tanganku.

Kami pun beristirahat beberapa saat, sebelum aku pamit pulang karena ada janji dengan pacarku. Aku pun berjanji akan mengirim draft surat kontraknya lewat e-mail sesegera mungkin.

“Jangan lewat e-mail Wan.. Kamu bawa aja sendiri.. Mumpung suamiku belum pulang.. Aku tunggu ya.” katanya sambil tersenyum manis.

*****

Untuk pembaca yang ingin berkenalan atau mengetahui rahasia sukses bisnisku, silakan menghubungi lewat email

Villa

Saat ini saya menginjak 17tahun, dan kisah ini terjadi kira-kira 2 bulan yang lalu, saat aku liburan akhir semester. Waktu itu aku sedang libur sekolah. Aku berencana pergi ke villa tanteku di kota M. Tanteku ini namanya Sofi, orangnya cantik, tubuhnya-pun sangat padat berisi, dan sangat terawat walaupun usia nya memasuki 38 tahun. Aku ingat betul, pagi itu, hari sabtu, aku berangkat dari kota S menuju kota M.
Sesampainya di sana, aku pun disambut dengan ramah. Setelah saling tanya-menanya kabar, aku pun diantarkan ke kamar oleh pembantu tanteku, sebut saja Bi Sum, orangnya mirip penyanyi keroncong Sundari Soekotjo, tubuhnya yang indah tak kalah dengan tanteku, Bi Sum ini orangnya sangat polos, dan usianya hampir sama dengan tante Sofi, yang membuatku tak berkedip saat mengikutinya dari belakang adalah bongkahan pantat nya yang nampak sangat seksi bergerak Kiri-kanan, kiri-kanan, kiri-kanan saat ia berjalan, seeakan menantangku untuk meremas nya.
Setelah sampai dikamar aku tertegun sejenak, mengamati apa yang kulihat, kamar yang luas dengan interior yang ber-kelas di dalamnya. sedang asyik-asyik nya melamun aku dikagetkan oleh suara Bi sum.
“Den, ini kamarnya.”
“Eh iya Bi.” jawabku setengah tergagap.
Aku segera menghempaskan ranselku begitu saja di tempat tidur.
“Den, nanti kalau ada perlu apa-apa panggil Bibi aja ya?” ucapnya sambil berlalu.
“Eh, tunggu Bi, Bibi bisa mijit kan? badanku pegel nih.” Kataku setengah memelas.
“Kalau sekedar mijit sih bisa den, tapi Bibi ambil balsem dulu ya den?”
“Cepetan ya Bi, jangan lama-lama lo?”
“Wah kesempatan nih, aku bisa merasakan tangan lembut Bi Sum memijit badanku.” ucapku dalam hati.
Tak lama kemudian Bi Sum datang dengan balsem di tangan.
“Den, coba Aden tiduran gih.” suruh Bi Sum.
“Eh, iya Bi.” lalu aku telungkup di kasur yang empuk itu, sambil mencopot bajuku. Bi Sum pun mulai memijit punggungku, sangat terasa olehku tangan lembut Bi Sum memijit-mijit.
“Eh, Bi, tangan Bibi kok lembut sih?” tanyaku memecah keheningan.
Bi Sum diam saja sambil meneruskan pijatannya, aku hanya bisa diam, sambil menikmati pijitan tangan Bi Sum, otak kotorku mulai berangan-angan yang tidak-tidak.
“Seandainya, tangan lembut ini mengocok-ngocok penisku, pasti enak sekali.” kataku dalam hati, diikuti oleh mulai bangunnya “Adik” kecilku.
Aku mencoba memecah keheningan di dalam kamar yang luas itu.
“Bi, dari tadi aku nggak melihat om susilo dan Dik rico sih.”
“Lho, apa aden belum dibilangin nyonya, Pak Susilo kan sekarang pindah ke kota B, sedang den Rico ikut neneknya di kota L.” tuturnya.
“Oo.., jadi tante sendirian dong Bi?” tanyaku
“Iya den, kadang Bibi juga kasihan melihat nyonya, nggak ada yang nemenin.” kata Bi Sum, sambil pijatannya diturunkan ke paha kiriku. Lalu spontan aku menggelinjang keenakan.
“Ada apa den?” tanyanya polos.
“Anu Bi, itu yang pegel.” jawabku sekenanya.
“Mm.. Bibi udah punya suami?” kataku lagi.
“Anu den, suami Bibi sudah meninggal 6bulan yang lalu.” jawabnya. Seolah berlagak prihatin aku berkata.
“Maaf Bi, aku tidak tahu, trus anak Bibi bagaimana?”
“Bibi titipkan pada adik Bibi” katanya, sambil pijitannya beralih ke paha kananku.
“Mm.. Bibi nggak pingin menikah lagi?” tanyaku lagi.
“Buat apa den, orang Bibi udah tua kok, lagian mana ada yang mau den?” ucapnya.
“Lho, itu kan kata Bibi, menurutku Bibi masih keliatan cantik kok.” pujiku, sambil mengamati wajahnya yang bersemu merah.
“Ah.., den andy ini bisa saja” katanya, sambil tersipu malu.
“Eh bener loh Bi, Bibi masih cantik, udah gitu seksi lagi, pasti Bibi rajin merawat tubuh.” Godaku lagi.
“Udah ah, den ini bikin Bibi malu aja, dari tadi dipuji terus.”
Lalu aku bangkit, dan duduk berhadapan dengan dia.
“Bi.., siapa sih yang nggak mau sama Bibi, sudah cantik, seksi lagi, tuh lihat tubuh Bibi indahkan?, apalagi ini masih indah loh..” kataku, sambil memberanikan menunjuk kearah gundukan yang sekal di dadanya itu. Secara reflek dia langsung menutupinya, dan menundukkan wajahnya.
“Aden ini bisa saja, orang ini sudah kendur kok dibilang bagus.” katanya polos.
Seperti mendapat angin aku mulai memancingnya lagi.
“Bibi ini aneh, orang payudara Bibi masih inah kok bilangnya kendur, tuh lihat aja sendiri” kataku, sambil menyingkapkan kedua tangannya yang menutupi payudaranya.
“Jangan ah den, Bibi malu.”
“Bi.. kalau nggak percaya, tuh ada cermin, coba Bibi buka baju Bibi, dan ngaca.” Lalu aku mulai membantu membuka baju kebaya yang dikenakannya, sepertinya ia pasrah saja. Setelah baju kebaya nya lepas, dan ia hanya memakai Bh yang nampak sangat kecil, seakan payudaranya hendak mencuat keluar. Aku pun mulai menuntunnya ke depan cermin besar yang ada di ujung ruangan.
“Jangan den, Bibi malu nanti nyonya tahu bagaimana?” tanyanya polos.
“Tenang aja Bi, tante Sofi nggak bakal tahu kok” Aku yang ada dibelakang nya mulai mencopot tali BH nya, dan wow.. tampak olehku didepan cermin, sepasang bukit kembar yang sangat sekal dan padat berisi, melihat itu “Adik” kecilku langsung mengacung keras sekali.
Aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Aku langsung meremas nya dari belakang, sambil ciumanku kudaratkan ke lehernya yang jenjang tersebut. Bi Sum yang telah setengah telanjang itu, hanya bisa mendesah dan matanya “Merem-melek”.
“Oh.. den jangan den, uhh.. den, Bibi diapain, den”
Aku tak menggubris pertanyaannya malahan aku meningkatkan seranganku. Kini ia kubopong ke ranjang, sambil menciumi putingnya yang merah mencuat itu, ia pun kelihatan mulai menikmati permainanku, dan Bi Sum telah kurebahkan diranjang, lalu aku mulai lagi menciumi putingnya, sambil menarik jarik yang dipakainya.
“Uhh.. den shh.. Bibi enak den uh.. shh.. teruus den”
Aku pun mulai membuka seluruh pakaianku dan ciumanku terus turun keperutnya, dan dengan ganasnya ku pelorotkan CD yang dipakainya, aku terdiam sesaat seraya mengamati gundukan yang ada dibawah perutnya itu.
“Den, punya aden besar sekali” katanya sambil meremas penisku, lalu kusodorkan penisku kemulutnya.
“Bi, jilatin ya.. punya Andy.” Bibir mungil Bi Sum mulai menjilati penisku. uuhh.., sungguh nikmat sekali rasanya.
“Mmhh.. ohh.. Bi terus, kulum penisku Bi.., tak lama kemudian Bi Sum mulai menyedot-nyedot penisku, dan rasanya ada yang akan keluar di ujung penisku.
“Bi.. teruuss, Bi.. aku mmaauu keeluuar, oohh” jeritku panjang dan tiba-tiba, serr maniku muncrat dalam mulut Bi Sum, Bi Sum pun langsung menelannya.
Aku pun mulai pindah posisi, kini aku mulai menjilati memek Bi Sum, tampak didepan mataku, memek Bi Sum yang bersih, dengan seikit rambut. Rupanya Bi Sum sudah tidak sabar, ia menekan kepalaku agar mulai menjilati memeknya dan sluurpp.. memek Bi Sum kujilati sampai kutenukan sesuatu yang mencuat kecil, lalu kuhisap, dan gigit kecil, gerakan tubuh Bi Sum mulai tak karuan, tanganku pun tidak tinggal diam, ku pilin-pilin putingnya dengan tangan kiriku sedangkan, tangan kananku ku gunakan menusuk memeknya sambil lidahku kumasukkan sedalam-dalamnya.
“Ohh.. den.. teruuss den jilat teruss.. memek Bibi den.. mmhh” katanya sambil menggeliat seperti cacing kepanasan.
“Ouhh den.. Bibi mau.. keluarr.. den ohh, ahh, den, Bibi keeluuaarr, akhh.” Bi Sum menggelinjang hebat dan serr cairan kewanitaannya kutelan tanpa sisa. Tampak Bi Sum masih menikmati sisa-sisa orgasme nya. Lalu aku mencium bibirnya lidahku kumasukkan kedalam mulutnya, ia pun sangat agresif lalu membalas ciumanku dengan hot.
Aku pun mulai menciumi telinganya, dan dadanya yang besar menempel ketat di dadaku, aku yang sudah sangat horny langsung berkata, “Bi aku masukkan sekarang ya..”. ia hanya bisa mengangguk pelan.
aku pun mengambil posisi, kukangkangkan pahanya lebar-lebar, kutusukkan penisku ke memek nya yang sudah sangat becek. Bless.. separuh penisku amblas kedalam memeknya, terasa olehku memeknya menyedo-nyedot kepala penisku. kusodokkan kembali penisku, bless.. peniskupun amblas kedalam memeknya, aku pun mulai memaju-mundurkan pantatku, memeknya terasa sangat sempit.
“Den.. ouhh.. teruuss.. denn.. mmhh..sshh.” desahan erotis itu keluar dari mulut Bi Sum, aku pun tambah horny dan kupercepat sodokkanku di memeknya.
“Oh.. Bii memek kamu sempit banget, ohh enak Bii, goyang teruuss Bii.. ouhh..”
“Den.. cepatt.. den.. goyang yang cepat.. Bibi.. mauu.. keluar.. den..”
aku mulai mengocok penisku dengan kecepatan penuh, tampak Bi Sum menggelinjang hebat.
“Den.. Bibi.. mau keluuaarr.. ouhh.. shhshshshh..”
“Tahan Bii.. aku.. juga mau keluuarr..”
Lalu beberapa detik kemudian terasa penisku di guyur cairan yang sangat deras.. serr.. penisku pun berdenyut hebat dan, serr.. terasa sangat nikmat sekali, rasanya tulang-tulang ku copot semua. aku pun rubuh diatas wanita setengah baya yang tengah menikmati orgasmenya.
“Bi.. terima kasih ya.. memek Bibi enak” kataku sambil mencupang buah dadanya.
“Den kapan-kapan Bibi dikasih lagi yaa.”
akhirnya kami tertidur dengan penisku menancap di memek Bi Sum, tanpa aku sadari permainan ku tadi dilihat semua oleh tanteku, sambil dia mempermainkan memeknya dengan jarinya. sekian pengalaman saya dengan Bi Sum, pembantu tante saya yang sangat menggiurkan. lain kali akan saya ceritakan pengalaman saya dengan tante saya yang mengintip permainan saya dengan Bi Sum, yang tentunya lebih menghebohkan, karena tante saya ini orang yang hipersex, jadi nafsunya sangat besar, dan meledak-ledak

Tante Erni

Kejadian ini terjadi ketika aku kelas 3 SMP, yah aku perkirakan umur aku waktu itu baru saja 14 tahun. Aku entah kenapa yah perkembangan sexnya begitu cepat sampai-sampai umur segitu ssudah mau ngerasain yang enak-enak. Yah itu semua karena temen nyokap kali yah, Soalnya temen nyokap Aku yang namanya Tante Erni (biasa kupanggil dia begitu) orangnya cantik banget, langsing dan juga awet muda bikin aku bergetar.
Tante Erni ini tinggal dekat rumahku, hanya beda 5 rumahlah, nah Tante Erni ini cukup deket sama keluargaku meskipun enggak ada hubungan saudara. Dan dapat dipastikan kalau sore biasanya banyak ibu-ibu suka ngumpul di rumahku buat sekedar ngobrol bahkan suka ngomongin suaminya sendiri. Nah Tante Erni inilah yang bikin aku cepet gede (maklumlah anak masih puber kan biasanya suka yang cepet-cepet).
Biasanya Tante Erni kalau ke rumah Aku selalu memakai daster atau kadang-kadang celana pendek yang bikin aku ser.. ser.. ser.. Biasanya kalau sudah sore tuh ibu-ibu suka ngumpul di ruang TV dan biasanya juga aku pura-pura nonton TV saja sambil lirak lirik. Tante Erni ini entah sengaja atau nggak aku juga enggak tahu yah. Dia sering kalau duduk itu tuh mengangkang, kadang pahanya kebuka dikit bikin Aku ser.. ser lagi deh hmm.
Apa keasyikan ngobrolnya apa emang sengaja Aku juga enggak bisa ngerti, tapi yang pasti sih aku kadang puas banget sampai-sampai kebayang kalau lagi tidur. Kadang kalau sedang ngerumpi sampai ketawa sampai lupa kalau duduk nya Tante Erni ngangkang sampai-sampai celana dalemnya keliatan (wuih aku suka banget nih). Pernah aku hampir ketahuan pas lagi ngelirik wah rasanya ada perasaan takut malu sampai-sampai Aku enggak bisa ngomong sampai panas dingin tapi Tante Erni malah diam saja malah dia tambahin lagi deh gaya duduknya. Nah dari situ aku sudah mulai suka sama tuh Tante yang satu itu. Setiap hari pasti Aku melihat yang namanya paha sama celana dalem tuh Tante.
Pernah juga Aku waktu jalan-jalan bareng ibu-ibu ke puncak nginep di villa. Ibu-ibu hanya bawa anaknya, nah kebetulan Mami Aku ngsajak Aku pasti Tante Erni pula ikut wah asyik juga nih pikir ku. Waktu hari ke-2 malam-malam sekitar jam 8-9 mereka ngobrol di luar deket taman sambil bakar jagung. Ternyata mereka sedang bercerita tentang hantu, ih dasar ibu-ibu masih juga kaya anak kecil ceritanya yang serem-serem, pas waktu itu Tante Erni mau ke WC tapi dia takut. Tentu saja Tante Erni di ketawain sama gangnya karena enggak berani ke WC sendiri karena di villa enggak ada orang jadinya takut sampai-sampai dia mau kencing di deket pojokan taman.
Lalu Tante Erni menarik tangan Aku minta ditemenin ke WC, yah aku sih mau saja. Pergilah aku ke dalam villa sama Tante Erni, sesampainya Aku di dalam villa Aku nunggu di luar WC eh malah Tante Ernin ngsajak masuk nemenin dia soalnya katanya dia takut.
“Lex temenin Tante yah tunggu di sini saja buka saja pintu nya enggak usah di tutup, Tante takut nih”, kata Tante Erni sambil mulai berjongkok.
Dia mulai menurunkan celana pendeknya sebatas betis dan juga celana dalamnya yang berwarna putih ada motif rendanya sebatas lutut juga. “Serr.. rr.. serr.. psstt”, kalau enggak salah gitu deh bunyinya. Jantungku sampai deg-degan waktu liat Tante Erni kencing, dalam hatiku, kalau saja Tante Erni boleh ngasih liat terus boleh memegangnya hmm. Sampai-sampai aku bengong ngeliat Tante Erni.
“Heh kenapa kamu Lex kok diam gitu awas nanti kesambet” kata Tante Erni.
“Ah enggak apa-apa Tante”, jawabku.
“Pasti kamu lagi mikir yang enggak-enggak yah, kok melihatnya ke bawah terus sih”, tanya Tante Erni.
“Enggak kok Tante, aku hanya belum pernah liat cewek kencing dan kaya apa sih bentuk itunya cewek” tanyaku.
Tante Erni cebok dan bangun tanpa menaikkan celana sama CDnya.
“Kamu mau liat Lex Nih Tante kasih liat tapi jangan bilang-bilang yah nanti Tante enggak enak sama Mamamu”, kata Tante Erni.
Aku hanya mengangguk mengiyakan saja. Lalu tanganku dipegang ke arah vaginanya. Aku tambah deg-degan sampai panas dingin karena baru kali ini Aku megang sama melihat yang namanya memek. Tante Erni membiarkanku memegang-megang vaginanya.
“Sudah yah Lex nanti enggak enak sama ibu-ibu yang lain dikirain kita ngapain lagi”.
“Iyah Tante”, jawabku.
Lalu Tante Erni menaikan celana dalam juga celana pendeknya terus kami gabung lagi sama ibu-ibu yang lain.
Esoknya aku masih belum bisa melupakan hal semalam sampai sampai aku panas dingin. Hari ini semua pengen pergi jalan-jalan dari pagi sampai sore buat belanja oleh-oleh rekreasi. Tapi aku enggak ikut karena badanku enggak enak.
“Lex, kamu enggak ikut” tanya mamiku.
“Enggak yah Mam aku enggak enak badan nih tapi aku minta di bawain kue mochi saja yah Mah” kataku.
“Yah sudah istirahat yah jangan main-main lagi” kata Mami.
“Erni, kamu mau kan tolong jagain si Alex nih yah, nanti kalau kamu ada pesenan yang mau di beli biar sini aku beliin” kata Mami pada Tante Erni.
“Iya deh Kak aku jagain si Alex tapi beliin aku tales sama sayuran yah, aku mau bawa itu buat pulang besok” kata Tante Erni.
Akhirnya mereka semua pergi, hanya tinggal aku dan Tante Erni berdua saja di villa, Tante Erni baik juga sampai-sampai aku di bikinin bubur buat sarapan, jam menunjukan pukul 9 pagi waktu itu.
“Kamu sakit apa sih Lex kok lemes gitu” tanya Tante Erni sambil nyuapin aku dengan bubur ayam buatannya.
“Enggak tahu nih Tante kepalaku juga pusing sama panas dingin aja nih yang di rasa” kataku.
Tante Erni begitu perhatian padaku, maklumlah di usia perkawinannya yang sudah 5 tahun dia belum dikaruniai seorang buah hati pun.
“Kepala yang mana Lex atas apa yang bawah” kelakar Tante Erni padaku.
Aku pun bingung, “Memangya kepala yang bawah ada Tante kan kepala kita hanya satu” jawabku polos.
“Itu tuh yang itu yang kamu sering tutupin pake segitiga pengaman” kata Tante Erni sambil memegang si kecilku.
“Ah Tante bisa saja” kataku.
“Eh jangan-jangan kamu sakit gara-gara semalam yah” aku hanya diam saja.
Selesai sarapan badanku dibasuh air hangat oleh Tante Erni, pada waktu dia ingin membuka celanaku, kubilang, “Tante enggak usah deh Tante biar Alex saja yang ngelap, kan malu sama Tante”
“Enggak apa-apa, tanggung kok” kata Tante Erni sambil menurunkan celanaku dan CDku.
Dilapnya si kecilku dengan hati-hati, aku hanya diam saja.
“Lex mau enggak pusingnya hilang Biar Tante obatin yah”
“Pakai apa Tan, aku enggak tahu obatnya” kataku polos.
“Iyah kamu tenang saja yah” kata Tante Erni.
Lalu di genggamnya batang penisku dan dielusnya langsung spontan saat itu juga penisku berdiri tegak. Dikocoknya pelan-pelan tapi pasti sampai-sampai aku melayang karena baru pertama kali merasakan yang seperti ini.
“Achh.. cchh..” aku hanya mendesah pelan dan tanpa kusadari tanganku memegang vagina Tante Erni yang masih di balut dengan celana pendek dan CD tapi Tante Erni hanya diam saja sambil tertawa kecil terus masih melakukan kocokannya. Sekitar 10 menit kemudian aku merasakan mau kencing.
“Tante sudah dulu yah aku mau kencing nih” kataku.
“Sudah, kencingnya di mulut Tante saja yah enggak apa-apa kok” kata Tante Erni.
Aku bingung campur heran melihat penisku dikulum dalam mulut Tante Erni karena Tante Erni tahu aku sudah mau keluar dan aku hanya bisa diam karena merasakan enaknya.
“Hhgg..achh.. Tante aku mau kencing nih bener ” kataku sambil meremas vagina Tante Erni yang kurasakan berdenyut-denyut.
Tante Ernipun langsung menghisap dengan agresifnya dan badanku pun mengejang keras.
“Croott.. ser.. err.. srett..” muncratlah air maniku dalam mulut Tante Erni, Tante Erni pun langsung menyedot sambil menelan maniku sambil menjilatnya. Dan kurasakan vagina Tante Erni berdenyut kencang sampai-sampai aku merasakan celana Tante Erni lembab dan agak basah.
“Enak kan Lex, pusingnya pasti hilang kan” kata Tante Erni.
“Tapi Tante aku minta maaf yah aku enggak enak sama Tante nih soalnya Tante..”
“Sudah enggak apa-apa kok, oh iya kencing kamu kok kental banget, wangi lagi, kamu enggak pernah ngocok Lex”
“Enggak Tante”
Tanpa kusadari tanganku masih memegang vagina Tante Erni.
“Loh tangan kamu kenapa kok di situ terus sih”. Aku jadi salah tingkah
“Sudah enggak apa-apa kok, Tante ngerti” katanya padaku.
“Tante boleh enggak Alex megang itu Tante lagi” pintaku pada Tante Erni.
Tante Erni pun melepaskan celana pendeknya, kulihat celana dalam Tante Erni basah entah kenapa.
“Tante kencing yah” tanyaku.
“Enggak ini namanya Tante nafsu Lex sampai-sampai celana dalam Tante basah”.
Dilepaskannya pula celana dalam Tante Erni dan mengelap vaginanya dengan handukku. Lalu Tante Erni duduk di sampingku
“Lex pegang nih enggak apa-apa kok sudah Tante lap” katanya. Akupun mulai memegang vagina Tante Erni dengan tangan yang agak gemetar, Tante Erni hanya ketawa kecil.
“Lex, kenapa Biasa saja donk kok gemetar kaya gitu sih” kata Tante Erni.
Dia mulai memegang penisku lagi, “Lex Tante mau itu nih”.
“Mau apa Tante”
“Itu tuh”, aku bingung atas permintaan Tante Erni.
“Hmm itu tuh, punya kamu di masukin ke dalam itunya Tante kamu mau kan”
“Tapi Alex enggak bisa Tante caranya”
“Sudah, kamu diam saja biar Tante yang ajarin kamu yah” kata Tante Erni padaku.
Mulailah tangannya mengelus penisku biar bangun kembali tapi aku juga enggak tinggal diam aku coba mengelus-elus vagina Tante Erni yang di tumbuhi bulu halus.
“Lex jilatin donk punya Tante yah” katanya.
“Tante Alex enggak bisa, nanti muntah lagi”
“Coba saja Lex”
Tante pun langsung mengambil posisi 69. Aku di bawah, Tante Erni di atas dan tanpa pikir panjang Tante Erni pun mulai mengulum penisku.
“Achh.. hgghhghh.. Tante”
Aku pun sebenarnya ada rasa geli tapi ketika kucium vagina Tante Erni tidak berbau apa-apa. Aku mau juga menjilatinya kurang lebih baunya vagina Tante Erni seperti wangi daun pandan (asli aku juga bingung kok bisa gitu yah) aku mulai menjilati vagina Tante Erni sambil tanganku melepaskan kaus u can see Tante Erni dan juga melepaskan kaitan BH-nya, kini kami sama-sama telanjang bulat.
Tante Erni pun masih asyik mengulum penisku yang masih layu kemudian Tante Erni menghentikannya dan berbalik menghadapku langsung mencium bibirku dengan nafas yang penuh nafsu dan menderu.
“Kamu tahu enggak mandi kucing Lex” kata Tante Erni.
Aku hanya menggelengkan kepala dan Tante Erni pun langsung menjilati leherku menciuminya sampai-sampai aku menggelinjang hebat, ciumannya berlanjut sampai ke putingku, dikulumnya di jilatnya, lalu ke perutku, terus turun ke selangkanganku dan penisku pun mulai bereaksi mengeras. Dijilatinya paha sebelah dalamku dan aku hanya menggelinjang hebat karena di bagian ini aku tak kuasa menahan rasa geli campur kenikmatan yang begitu dahsyat. Tante Erni pun langsung menjilati penisku tanpa mengulumnya seperti tadi dia menghisap-hisap bijiku dan juga terus sampai-sampai lubang pantatku pun dijilatinya sampai aku merasakan anusku basah.
Kulihat payudara Tante Erni mengeras, Tante Erni menjilati sampai ke betisku dan kembali ke bibirku dikulumnya sambil tangannya mengocok penisku, tanganku pun meremas payudara Tante Erni. Entah mengapa aku jadi ingin menjilati vagina Tante Erni, langsung Tante Erni kubaringkan dan aku bangun, langsung kujilati vagina Tante Erni seperti menjilati es krim.
“Achh.. uhh.. hhghh.. acch Lex enak banget terus Lex, yang itu isep jilatin Lex” kata Tante Erni sambil menunjuk sesuatu yang menonjol di atas bibir vaginanya.
Aku langsung menjilatinya dan menghisapnya, banyak sekali lendir yang keluar dari vagina Tante Erni tanpa sengaja tertelan olehku.
“Lex masukin donk Tante enggak tahan nih”
“Tante gimana caranya”
Tante Erni pun menyuruhku tidur dan dia jongkok di atas penisku dan langsung menancapkannya ke dalam vaginanya. Tante Erni naik turun seperti orang naik kuda kadang melakukan gerakan maju mundur. Setengah jam kami bergumul dan Tante Erni pun mengejang hebat.
“Lex Tante mau keluar nih eghh.. huhh achh” erang Tante Erni.
Akupun di suruhnya untuk menaik turunkan pantatku dan tak lama kurasakan ada sesuatu yang hangat mengalir dari dalam vagina Tante Erni. Hmm sungguh pengalaman pertamaku dan juga kurasakan vagina Tante Erni mungurut-urut penisku dan juga menyedotnya. Kurasakan Tante Erni sudah orgasme dan permainan kami terhenti sejenak. Tante Erni tidak mencabut penisku dan membiarkanya di dalam vaginanya.
“Lex nanti kalau mau kencing kaya tadi bilang ya” pinta Tante Erni padaku.
Akupun langsung mengiyakan tanpa mengetahui maksudnya dan Tante Ernipun langsung mengocok penisku dengan vaginanya dengan posisi yang seperti tadi.
“Achh .. Tante enak banget achh.., gfggfgfg..” kataku dan tak lama aku pun merasakan hal yang seperti tadi lagi.
“Tante Alex kayanya mau kencing niih”
Tante Erni pun langsung bangun dan mengulum penisku yang masih lengket dengan cairan kewanitaanya, tanpa malu dia menghisapnya dan tak lama menyemburlah cairan maniku untuk yang ke 2 kalinya dan seperti yang pertama Tante Erni pun menelannya dan menghisap ujung kepala penisku untuk menyedot habis maniku dan akupun langsung lemas tapi disertai kenikmatan yang alang kepalang.
Kami pun langsung mandi ke kamar mandi berdua dengan telanjang bulat dan kami melakukannya lagi di kamar mandi dengan posisi Tante Erni menungging di pinggir bak mandi. Aku melakukannya dengan cermat atas arahan Tante Erni yang hebat. Selasai itu jam pun menunjukan pukul 1 siang langsung makan siang dengan telur dadar buatan Tante Erni, setelah itu kamipun capai sekali sampai-sampai tertidur dengan Tante Erni di sampingku, tapi tanganku kuselipkan di dalam celana dalam Tante Erni. Kami terbangun pada pukul 3 sore dan sekali lagi kami melakukannya atas permintaan Tante Erni, tepat jam 430 kami mengakhiri dan kembali mandi, dan rombongan ibu-ibu pun pulang pukul 6 sore.
“Lex kamu sudah baikan” tanya Mamiku.
“Sudah mam, aku sudah seger n fit nih” kataku.
“Kamu kasih makan apa Ni, si Alex sampai-sampai langsung sehat” tanya Mami sama Tante Erni.
“Hanya bubur ayam sama makan siang telur dadar terus kukasih saja obat anti panas” kata Tante Erni.
Esoknya kamipun pulang ke jakarta dan di mobil pun aku duduk di samping Tante Erni yang semobil denganku. Mami yang menyopir ditemani Ibu Herman di depan. Di dalam mobilpun aku masih mencuri-curi memegang barangnya Tante Erni.
Sampai sekarang pun aku masih suka melakukannya dengan Tante Erni bila rumahku kosong atau terkadang ke hotel dengan Tante Erni. Sekali waktu aku pernah mengeluarkan spermaku di dalam sampai 3 kali. Kini Tante Erni sudah dikarunia 2 orang anak yang cantik. Baru kuketahui bahwa suami Tante Erni ternyata menagalami ejakulasi dini. Sebenarnya kini aku bingung akan status anak Tante Erni.
Yah, begitulah kisahku sampai sekarang aku tetap menjadi PIL Tante Erni bahkan aku jadi lebih suka dengan wanita yang lebih tua dariku. Pernah juga aku menemani seorang kenalan Tante Erni yang nasibnya sama seperti Tante Erni, mempunyai suami yang ejakulasi dini dan suka daun muda buat obat awet muda, dengan menelan air mani pria muda.

Nenek

Kisah nyata ini bener-bener kualami. Terjadi sekitar enam tahun silam saat usiaku menginjak 24 tahun. Aku terjerat hubungan percintaan yang panas membara dengan nenekku sendiri. Walau berstatus nenek tapi wanita yang satu ini bukannya sudah tua atau keriput. Orangnya cantik, putih dan lemah lembut, makanya diusia yang sudah menginjak 50 tahun, nenekku ini masih terlihat seperti wanita berusia 30 tahun. Maklum sebagai wanita dalam keluarga kaya, tidaklah sulit untuk merawat diri termasuk senam. Oya.. nama nenekku ini Elsa. Dalam tingkatan keluarga aku mesti memanggilnya nenek karena suaminya adalah adik kakekku. Kakekku berumur 55 tahun jadi berjarak 15 tahun dengan nenek.

*****

Kumulai kisahku saat setelah berpisah dari istriku, aku meninggalkan rumah dan tinggal ditempat kost. Karena kesibukan pekerjaan, aku baru bisa jalan-jalan mengunjungi saudara di hari Sabtu dan Minggu termasuk dirumah kakek dan nenek Elsa. Setelah sekian lama tidak berkunjung, kedatanganku diterima dengan suka cita. Mungkin juga mereka ingin menghiburku setelah perceraianku. Akupun tambah sering berkunjung bahkan sudah mulai sering menginap karena kebetulan ada kamar yang kosong. Bisa ditebak kenapa aku jadi betah dirumah itu. Karena nenekku yang cantik sangat ramah melayaniku. Kadang saat bangun pagi sudah dihidangkan sarapan khusus buatku.

Aku lebih sering menginap apalagi kalau masuk kerja midle jadi aku ada kesempatan berlama-lama dengan nenekku Elsa. Kakekku berangkat pagi-pagi sekali, sementara kedua anak mereka sekolah di Singapura. Cuma tinggal pembantu saja. Suasana seperti ini kumanfaatin untuk bercengkerama dengan nenek cantik bahenol ini. Walau pikiran kotorku suka menggelayut ketika melihat kecantikan nenek, tapi aku selalu mengesampingkan karena nenek sangat baik dan sopan. Selama menginap aku mulai memperhatikan keanehan di rumah. Aku sering bertanya dalam hati kenapa koq kakek dan nenek tidurnya di kamar terpisah? Tapi pertanyaan itu Cuma menggelayut dibenak karena aku tidak berani bertanya.

Sampai kemudian disuatu pagi saat pembantu sedang kepasar, aku memberanikan diri bertanya.
“Nek, kenapa sih nggak tidur sekamar dengan kakek?” tanyaku.
Nenekku sedikit terdiam sejenak.
“Itulah kakekmu.,” tiba-tiba nenek tersedu tidak bisa menahan emosinya.
Aku jadi tidak enak hati.
“Andy, kamu bisa nyimpen rahasia nggak?” tanya nenekku disela isaknya.
“Bisa nek” jawabku.
“Kakekmu itu punya kelainan, dia lebih tertarik kepada laki-laki. Kakek pernah kepergok bawa laki-laki muda kerumah ini, bahkan Aku mergokin mereka lagi bermesraan di kamar, siapa yang nggak kesel”, Nenek terdiam.
“Tolong jaga rahasia ini ya, aku malu kalo ketahuan orang. Sudah lama aku pengen cerita tapi aku nggak ada teman ngobrol, please jangan cerita siapa-siapa ya,” pinta nenekku.

Semenjak saat itu keinginan yang terpendam dalam diriku selalu menyeruak. Apalagi setelah mengira-ngira kalau wanita yang berpostur mirip penyanyi sexi Connie Constantia ini pasti kesepian. Tapi sikap sopan nenek membuatku menaruh hormat. Sampai kemudian di suatu pagi ketika pembantu sudah ke pasar, tinggal aku dan nenek. Saat aku lewat kamar nenek yang terbuka sedikit kulirikkan mataku. Woowww.. berdebar dadaku. Kulihat di dalam kamar nenek membelakangi pintu dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun. Kayaknya baru selesai mandi. Ada sekitar 10 detik aku terpanah dan saat tersadar aku bergegas ke dapur. Di pikiranku mulai mengira-ngira, apakah nenek sengaja memancingku. Namun pikiran itu kucoba kesampingkan.

Saat kembali kearah kamar aku berpapasan dengan nenek yang sudah berganti pakaian. Ada sesuatu yang lain pagi ini. Nenek berpakaian agak seksi dengan kaos U can See plus rok pendek.Yang pertama kuperhatikan adalah nenek tanpa memakai BH. Ohh.. diam-diam aku bergidik membayangkan tubuh seksinya.
“Tumben ada apa nih koq seksi banget,” sapaku.
“Emangnya nggak boleh” sahutnya.
“Bukan nggak boleh, kenapa nggak dari dulu berpakaian seperti itu, kan cantik sekali, kayak anak kuliahan,” ujarku sedikit menggoda.
“Ahh, Andy bisa aja, emangnya aku masih cantik?” timpalnya manja.
“Siapa sih yang nggak tertarik melihat kecantikan nenek? Aku aja tertarik banget tapi sayangnya nenekku sendiri”, jawabku memuji ditambah kata-kata menggoda.

Naluriku sebagai lelaki sejati mulai memberontak mengalahkan moral dan kesopanan. Apa salahnya aku menikmati tubuh indah didepanku? Apa salahnya aku memberi kepuasan seorang wanita yang lagikesepian? Toh aku nggak punya hubungan darah langsung dengan wanita cantik ini, batinku berkecamuk. Tanpa bisa ditahan si Mr. Happy mulai menunjukkan ‘amarah’nya. Di balik celana pendek, kucoba mengatur posisinya yang mulai menonjol kencang. Ahh aku sedikit resah. Nafsu mulai mengalahkan segala akal sehat dan moral.

Mungkin dilandasi naluri kelelakian yang mulai naik atau rasa ingin memuji, ataupun nafsu yang mulai membara, tanpa kusadari tanganku merangkul pundak nenek seraya mengelus-ngelus pangkal lengan.
“Nenek cantik sekali,” gumamku pelan.
“Eit, jangan nakal. Tapi Andy mau kan kalo Cuma kita berdua yang ngobrol jangan panggil aku nenek, panggil aja Elsa ya,” pintanya.
“Iya nek, ehh Elsa,” bisikku ditelinganya.
Ternyata bisikan itu berefek sangat cepat karena nenek menggelinjang kegelian.
“Ihh kamu tuh, bikin aku merinding, dah lama nih nggak disentuh jadi jangan macam-macam,” kata nenek.
Justru komentar seperti itu membuat aku semakin berani bertindak lebih.
“Emangnya kalo macam-macam kenapa?” kataku sambil mencolek pinggul bahenol milik nenekku yang cantik itu.
“Ahh Andy bisa aja, aku kan sudah nenek-nenek dan nggak menarik lagi?” ucapnya lirih.
Aku tahu kalau ucapannya tadi memndakan hati seorang wanita yang ingin dipuji.
“Mau dengar yang jujur? Elsa antik sekali, sangat mubasir kalo wanita secantik ini disia-siain. Emang kakekku tuh orang bego, mahluk seindah ini dibiarkan nganggur,” sahutku ditambah jurus-jurus rayuan maut.

Sekonyong-konyong entah dari mana datangnya keberanianku, kutarik tubuh nenek dan kupeluk. Tanpa perlu menunggu komentarnya aku sudah langsung mencium bibirnya. Bibirnya yang merekah kucium bertubi-tubi. Ada sedikit perlawanan penolakan karena mungkin kaget. Tapi nggak berselang lama perlawanan tadi jadi tanpa penolakan lagi. Bahkan nenek mulai ‘melawan’ dengan kulumannya. Bibirnya yang merekah tadi mulai terbuka lebar. Lidahku mulai dipilinnya. Kami saling hisap lama karena nenek ternyata pintar sekali berciuman. Selama berhubungan dengan banyak wanita, belum pernah aku merasakan ciuman panas seperti ini.

Sekitar 10 menit kami berciuman, seakan nggak mau terlewatkan setiap sudut bibir dan mulut. Kuberanikan tangan mengelus pahanya yang putih mulus. Nenek sedikit menggelinjang. Ujung jari kusapukan dari jari kakinya dan merayap keatas perlahan. Wanita dipelukanku semakin terbungkus nafsu yang kuciptakan. Dengan tetap menjelajahkan bibirku di bibir dan lehernya, telapak tanganku meraba kulit pahanya bagian dalam. Nenek menggelinjang dahsyat. Kudorong tubuh nenek ke sofa dipojok ruang tamu. Kuangkat kaos U can see pink dan aku tertahan menatap buah dada putih yang menggantung indah. Walau tak terlalu besar namun dua gundukan putih bersih itu ditambah puting yang tidak terlalu besar membuat nafsuku semakin liar. Nenek bersandar pasrah dengan apa yang aku lakukan dan hanya bisa mengerang penuh nafsu. Kami melakukan tanpa kata-kata. Hanya sorot mata penuh keinginan yang terpancar ketika kami bergumul.

Perlahan kusisipkan jariku dari balik celana dalamnya. Dan tanpa dikomando jari tengahku langsung menjelajah bibir vagina yang sudah banjir. Nenek kembali menggelinjang. Dipeluknya aku erat-erat sambil bibirku masih mengulum putingnya. Ketika jari kumasukkan mencari sasaran klitoris dan G-spot, nenek semakin menggelinjang. Kulihat nenek sepertinya mau sampai puncak. Kucoba kendalikan suasana dengan memperlambat tempo permainan jari. Nenek seperti kecewa namun nggak berani berkata-kata. Hanya matanya yang kelihatan meminta untuk melanjutkan. Dengan sedikit rasa kasihan melihat penantian wanita ini, kuloloskan celana dalam nenek dan masih di sofa kukangkangkan kakinya. Nenek bagai dicocok hidung menuruti apa yang kulakukan. Uhh.. rambut hitam lebat menutupi segumpal daging yang sudah basah memerah. Perlahan bibirku kudaratkan kebibir bagian bawah itu. Dengan lihainya kujulurkan lidahku menjelajah klitorisnya.
“Ahh.. Andy,” nenek merintih, “Enak.. enak, kamu hebat sekali,” gumam nenek.
Kupercepat gerakan lidahku menelusuri setiap sudut vagina nenekku yang cantik. Cuma sekitar lima menit sejak kujilati kemaluannya, badan nenek kemudian mengejang. Aku hapal sekali ritme wanita seperti ini. Nenek pasti mau mencapai puncak. Kugigit klitorisnya dan tiba-tiba meledaklah emosi nenek. Nenek Elsa meronta-ronta sambil menekan kepalaku yang semakin terbenam diselangkangannya.
Dan, .”Ahh..,” nenek melenguh panjang tanda orgasme.
Badannya lemas terkulai di sofa.

Namun permainan belom berakhir karena nenek belom melakukan sesuatu buatku. Mungkin karena keenakan atau lupa, tadi nenek tidak melakukan kegiatan apapun selain menciumku. Walaupun itu kurasa nggak adil karena permainan cuma satu arah namun kubiarkan saja karena aku paham nenek sudah lama tidak melakukan ini jadi mungkin terlambat bereaksi karena keenakan hehehe. Kuloloskan celana pendekku. Punyaku yang sedari tadi tegak didalam celana, langsung menunjuk kearah muka nenek.
“Wow, besar sekali,” komentar nenek disela nafasnya yang masih memburu.
Tanpa menunggu berkomentar lagi kutempelkan si Mr happy ke bibir mungil nenek. Dan semua batang langsung masuk kemulut. Dengan rakusnya nenek mengulum dan sesekali menjilat punyaku. Oh.. enak sekali. Aku merem-melek dibuatnya. Semua sisi batang kemaluanku tak luput dari sapuan lidahnya yang dahsyat. Kupikir, bodoh banget kakekku menelantarkan wanita cantik yang ahli seperti ini. Aku bener-bener dibuat keenakan sama nenekku tercinta ini. Tanpa kata-kata kuajak nenekku merasakan yang indah-indah. Kutelentangkan nenek di sofa krem ruang tamu ini, kusingkapkan rok mininya dan aku mengambil posisi diatas tubuh bahenol ini dengan posisi 69. Posisi kwesukaanku ketika ML dengan wanita siapa saja. Kusibakkan rambut lebat dan labia mayoranya kuseruput dengan perlahan. Nenek Elsa menggelinjang kemudian balas mengulum Mr Happy-ku. Ohh.. enaknya. Nenekku ini bener-bener lihai mengulum dan mengisap. Belom pernah aku merasakan sensasi sedahsyat ini. Namun lagi enak-enaknya mengeksplorasi gaya 69 tiba-tiba pintu pagar depan berderit. Terlihat Bi Imah memasuki pekarangan. Dengan gerka cepat kami berbenah seperti tidak terjadi apa-apa.

Sialan nanggung banget! Persetan dengan segala norma. Kutarik tangan nenek ke lantai atas, ke kamarku.
“Nggak enak Ndy, nanti ketahauan Imah,” nenek coba menolak, namun kuseret mengikuti langkahku.
“Pasti Bi Imah nggak curiga, lagian dia pasti mikirnya nggak ada apa -apa, wong nenek sama cucunya,” kataku menggoda.
Pinggulku dicubitnya, “Awas kamu ya.. kamu emang bandel ya Ndy.. masak nenekmu sendiri kamu perlakukan seperti ini,” katanya.
“Tapi Elsa suka kan?” jawabku.
“Ohh.. suka banget soalnya terus terang aku sudah dua tahun ini tidak berhubungan badan, tidak pernah disentuh lagi sama kakekmu,” nenek menjelaskan.
“Sebelumnya aku pernah berhubungan dengan teman kakekmu, tapi nggak enak karena sudah loyo. Itupun cuma sekali dan aku nggak pernah mau lagi,” kata nenek lirih.

Sesampai di kamarku, kukunci pintu dan langsung memeluk nenek.
“Jangan berisik ya Ndy,” ujar nenek.
Aku menjawabnya dengan meloloskan kaos nenek. Tubuhnya yang putih mulus dengan buah dada semangkuk yang menantang. Aku bener-bener nafsu melihat nenekku yang sexi ini. Tanpa menunggu kucopot juga rok pendeknya. Karena sudah nggak bercelana dalam, pemandangan indah langsung terhampar didepanku. O ya, sebetulnya aku bisa dikategorikan udipus complex karena lebih tertarik dengan wanita yang usianya melebihi aku, apalagi kalo sudah beristri. Klop deh! Nenekku ini terlalu cantik untuk kunikmati.

Tubuh padat dari wanita beusia 40 tahun ini bener-bener sempurna. Idamanku. Tinggi sekitar 165 cm dengan punggung yang bersih, pinggul padat, paha berisi, betis bunting padi dan kaki yang rapi terurus. Wajahnya jangan ditanya, sempurna sebagai seorang wanita. Dengan rambut yang di cat agak pirang dan sedikit melewati bahu bener-bener indah dipandang. Nenekku ini emang masih ada darah Jermannya. Perlahan nenek Elsa melangkah ke arah cermin besar disebelah tempat tidurku. Dia berlenggak lenggok seperti peragawati.
“Aku masih cantik nggak sih Ndy?” tanyanya sedikit berbisik.
Tanpa menjawabnya kupeluk dia dari belakang. Aku yang juga sudah polos tanpa pakaian langusng bersentuhan kulit. Uhh.. Mr Happyku yang tadi nanggung langsung tegak menempel pinggul bahenol. Nenek kemudian berbalik dan kami berciuman lagi. Lama dan erat. Perlahan kudorong dia ke tempat tidurku. Kami melanjutkan posisi 69 yang tadi terganggu.
“Ndy, kamu jilatnya enak banget deh,” seruak nenek disela kegiatannya mengisap punyaku.
“Elsa juga enak banget ngisapnya,” sahutku.
Kurasakan nenek bergetar setiap kuseruput klitorisnya.

Tiba-tiba nenek menghiba, “Ndy..please masukin punyamu ya? Aku nggak tahan nih pengen ngerasain, dah lama nggak dimasukin, paling-paling aku gesek sendiri pake jari,” pintanya.
Akupun mengambil posisi diatas tubuh sintal ini dan kembali mencium bibir indah. Tangan nenek memegang punyaku dan menuntun ke bibir vaginanya. Basah kalau tidak dibilang banjir. Dengan sedkit menekan, kudorong Mr Happyku memasuki area basah tadi. Walau agak sedikit kesulitan karena pembengkakan labia mayora namun bless, akhirnya masuk juga. Nenek menggelinjang dan menjerit kecil.
“Kenapa Elsa?” tanyaku.
“Aku sudah lama nggak ngerasain kayak gini,” sahutnya disela erangan.
Kupompa pinggulku dengan ritme yang pasti, naik turun. Nenek juga menggoyangkan pinggulnya seirama, naik turun. Tapi kadang pinggulnya nakal merobah ritme dengan memutar. Ahh asiknya. Dengan posisi aku diatas, beberapa kali aku leluasa merobah posisi. Kuangkat kedua kaki tinggi-tinggi dan meletakkan dibahuku. Dengan posisi ini terasa sekali gigitan vaginanya.
“Ndy, enak bener.. terima kasih Ndy, kamu berani memulai tadi, aku sebetulnya juga suka membayangkan kamu tapi aku nggak berani memulai, kamu kan cucuku. Ohh makasih ya Ndy, aku senang banget,” cerocos nenek Elsa, rame.

Kali ini kuselonjorkan kaki kirinya sementara kaki kanannya masih menyampir dipundakku. Dengan berlutut kutekan Mr Happy memenuhi vaginanya. Dengan penuh tenaga kugenjot keluar masuk. Nenek Elsa mengerang, namun dengan sedkit menahan suaranya, takut ketahuan Bi Imah. Kali ini kutelungkupkan dan ohh pantatnya yang besar berisi -tapi bukan gemuk-itu kuciumi. Kubuka paha belakangnya lebar-lebar dan kembali kumasukkan punyaku. Blepp.. dan kuenjot keluar masuk. Posisi seperti terasa enak buat Mr Happyku, juga enak buat nenek. Buktinya nenek Elsa kelojotan. Kemudian kuangkat pinggulnya dan dengan gaya dogie style ketekan dalam-dalam punyaku ke vaginanya yang terasa kian berdenyut.

Puas dengan posisi itu aku kembali memulai dari awal. Kuciumi kakinya, mulai dari ujung jari, menelusuri betisnya, ke paha dan singgah sebentar di vaginanya kemudian menyusur perut, naik sedikit ke buah dada, ke leher dan bermuara di bibirnya yang indah. Nenek Elsa kulihat merinding.
“Uhh enaknya kamu bener-bener membuat sensasi yang sangat berlebihan,” gumam nenek.
Kali ini aku ngambil posisi telentang dan kuajak nenek untuk naik keatasku. Rupanya nenek sangat senang dengan posisi ini. Buktinya, dengan lincahnya dia nangkring diatas tubuhku dan Mr Happyku sudah menancap dalam-dalam divaginanya. Dan tanpa dikomando nenek sudah naik turun laksana kuda liar. Dia mengeksplor goyangannya keatas ke bawah, kesamping, memutar dan.. uhh aku bener-bener keenakan.

Nenek bener-bener layaknya anak kecil yang dapat mainan baru. Semuanya gaya dicobain. Terkadang punggungnya membelakangiku. Terkadang dia berjongkok. Pokoknya semua yang bisa dicobanya. Kali ini aku Cuma bisa pasif dan sesekali memnggoyangkan pinggulku atau memilin putingnya. Sengaja kubiarkan nenek bereksperimen sendiri. Aku ngerti banget kalo nenek Elsa bener-bener mau meluapkan keinginan yang terpendam.
“Dua puluh tahun kawin dengan kakekmu aku belom pernah merasakan permaian seperti ini. Biasanya kakekmu dulu kalo udah naik, cuma 2 menit udah keluar, payah. Aku pernah nyoba selingkuh dengan temen kakek ternyata sama saja.. cuma sebentar sudah keluar.. payah juga. Sudah lama aku berangan pengen main dengan lelaki muda, pengen merasakan sentuhan lelaki muda, tapi aku nggak berani, takut. Aku nggak berani memulai. Banyak temen-temenku yang nyoba jasa gigolo tapi aku nggak tertarik karena takut kenapa-kenapa. Makanya aku kaget waktu kamu godain aku tadi..padahal sih aku sudah membayangkan bisa seperti ini sama kamu tapi nggak berani mulai,” lagi, cerocos nenek Elsa seakan menumpahkan isi hatinya dengan posisi tetap naik turun diatasku.

Tiba-tiba badan nenek mengejang. Aku merasakan itu. Aukupun langsung beraksi, kubalas goyangannya lebih dahsyat. Kuangkat tinggi-tinggi pinggulku dengan nenek tetap berada diatasku, kemudian tiba-tiba kujatuhkan.. ahh enaknya.
“Ndy,.. aku mau keluar.. Ndy aku mau.. Ndy,” gumam nenek.
Kupercepat goyang pinggulku mengikuti irama goyangannya. Bener-bener kuda binal yang buas neneku ini, batinku. Tiba-tiba, “Ahh.. aku.. aku.. ke.. luuaarr.. ahh.. ohh.. ohh enaknya.. sayangku.. ohh.. indahnya,” teriak nenekku tertahan.
Badannya berkelojotan kedepan dan kebelakang, kemudian mencengkeram pundakku dan selanjutnya tersandar didadaku dengan nafas tersengal. Nenek Elsa sudah merasakan orgasme yang sensasional.
“Ohh.. seumur hidup ini pertama kali aku mengalaminya, makasih ya Andy sayang,” bisiknya ditelingaku.

Lama nenek mengatur nafas sambil terbaring diatas tubuhku.
“Elsa.. gantian dong aku juga pengen keluar..,” kataku sedikit menggoda.
“Ohh.. ya.. kamu belom ya.. sampe lupa,” sahutnya pelan.
Kami bertukar posisi, aku diatas dan Elsa di bawah, tanpa mencopot punyaku. Nenek Elsa membuka lebar-lebar pahanyamulusnya. Aku semakin bernafsu melihat kemulusan tubuhnya. Kuenjot pinggulku cepat, naik turun. Ada sekitar lima menit kucoba merangkai sensasi dengan MR Happyku yang mulai berdenyut.
Dan seperti lahar panas membara yang sudah mau menyembur, aku berbisik “Elsa.. aku mau keluar.”
“Ayo sayang.. semprot sayang.. semprot yang kuat sayangku.. sudah lama aku menginginkannya,” sahutnya sambil tetap menggoyang pinggul.
Elsa berkelojotan lagi. Dan wuaahh.. akupun menyemburkan sperma panas kedalam liang vagina nenekku. Aku mengejang! Namun disela kesadaran yang mulai hilang aku lihat nenek merem-melek dan kembali mengejang. Rupanya kami sama-sama keluar. Nenek mengeluarkan cairan kenikmatan untuk kesekian kalinya. Dan kamipun terdiam. Hanya nafas memburu yang berbicara. Aku masih menelungkup diatas tubuh nenenku tanpa mencopot punyaku, karena aku ingin merasakan sensasi pasca ejakulasi. Denyut Mr happy dan vagina yang beradu seakan jadi sensasi tersendiri.

Kami berpelukan dan saling mengecup. Peluh mengucur dimana-mana padahal kamarku ber-AC. Namun dengan peluh itu semakin menyatukan tubuh kami. Sejak itu aku jatuh cinta dengan nenekku yang cantik ini. Sejak kejadian itu aku tinggal menetap dirumah kakek-nenek. Dan mulai saat itu pula petualangan cinta kami lakukan, hampir tiap hari, tiap ada kesempatan. Kadang bangun tidur nenek sudah nongkrongin aku ditempat tidurku dengan memegang-megang punyaku. Kadang di sofa, di kamar mandi, di dapur, dimana saja setiap ada kesempatan berdua dan aman. Aku sering jadi sopir nganterin nenek kemana aja, karena disetiap kesempatan aku pasti diisepnya. Bahkan terkadang kami melakukan dikamar nenek yang bersebelahan dengan kamar kakek. Yang pasti dengan mengecilkan volume suara.

Sejauh ini kakek nggak curiga. Bahkan sampai saat ini aku masih tinggal dirumah itu dan masih melakukan aktifitas sex dengan nenek sexiku tanpa sepengetahuan kakek. Sejauh ini aman-aman saja. Aku bener-bener jadi suami nenek, menggantikan fungsi seksual kakekku yang doyan lelaki.Dan aku ketagihan, bahkan tidak kepikiran untuk kawin lagi karena kebutuhan sexualku terpenuhi.

Ataukah mungkin kakekku sudah tahu tapi membiarkan karena kakek juga pengen menikmati kehidupan seksualnya dengan lelaki-lelaki muda kesukaannya. Aku nggak tahu. Namun setelah pengalaman seksual yang indah bersama nenekku ini, aku ketagihan bermain cinta dengan wanita STW. Aku bahkan kemudian menggilir dua saudara perempuan nenek dan dua sepupunya. Yang pasti tanpa sepengetahuan nenek

Melly

Peristiwa ini bermula sejak aku berenang di kolam renang Pasar Atom Surabaya. Pada saat itu aku beserta teman-teman telah sepakat untuk mengadakan renang bersama setelah kami selesai menempuh ulangan umum cawu 3 tahun ajaran 2001-2002 yang diadakan oleh SMU kami. Hal itu kami lakukan sebagai rasa bersyukur kami karena kami telah berhasil menjalani ulangan umum yang paling menentukan dengan hasil yang memuaskan. Walaupun nilainya belum keluar tapi kami optimis kalau kami akan mendapatkan nilai yang bagus di raport kelak dan hal itu memang benar-benar terjadi saat penerimaan raport berlangsung.
Saat itu kami berangkat menuju ke lokasi beramai ramai menaiki sepeda motor. Kami ingin meluapkan kegembiraan di saat itu dengan naik motor memenuhi jalan. Padahal pada saat itu jumlah kami tak terlalu banyak. Hanya 12 orang dengan 6 motor. Awalnya aku tak mau ikut serta. Tapi karena ada temanku yang tidak punya partner untuk berangkat, so aku mau aja. Itung itung bantu teman. Selain itu temanku yang tidak kebagian kendaraan itu cewek yang lumayan cakep, so aku ho-oh aja deh.
Sepanjang perjalanan kami bersendau gurau bersama. Aku pun tak mau ketinggalan untuk usil dengan cewek yang aku bonceng. Sebetulnya aku kasihan juga sih untuk ngerjain dia. Tapi aku ingin merasakan dadanya. Segera saja kutekan penuh kopling dan kulepas secara cepat dengan gas yang buka secara besar pula sehingga motorku langsung lompat dan otomatis dadanya tertekan kepunggungku dan ohh.. benar-benar empuk hangat dan kenyal sekali dadanya. Apalagi dia saat itu hanya memakai baju ketat putih yang tipis. Sehingga BHnya terlihat dengan jelas. benar-benar pemandangan yang indah.
“Maaf, ya,” kataku basa basi.
“Nggak apa kok. Hati hati ya..” katanya sambil memelukku dengan erat.
So kontan aja penisku langsung bangkit. Barang siapa sih yang nggak senang kalau ditempeli payudara yang kenyal kaya gitu. Dia memelukku erat sekali. Entah kenapa. Mungkin dia takut jatuh. Selama diperjalanan aku happy banget. Karena dada temanku itu ditempelkan terus kepunggungku.
Setelah lama diperjalanan, akhirnya kami sampai juga. Teman-teman kami langsung masuk ke dalam areal pasar Atom seperti pernah mengunjungi tempat tersebut. Tetapi ternyata dugaanku salah. Mereka malah mencari satpam dan bertanya tentang keberadaan kolam renang tersebut. Karuan saja aku jadi tertawa terbahak bahak, walau dalam hati. Setelah bertanya kami segera menuju kolam renang tersebut.
Setibanya di sana aku sangat senang sekali. Karena pengunjungnya adalah gadis gadis ABG yang cakep cakep dan sexy sexy. Mereka rata rata memiliki tubuh yang proposional. Karena sudah nggak bisa menahan kegembiraanku, segera saja aku bersuit suit dengan keras sekali sampai sampai diantara mereka ada yang tersenyum ada juga yang acuh tak acuh. Dan hebatnya lagi pengunjung pada siang hari itu pengunjungnya nggak ada yang cowok. Semuanya cewek cewek ABG yang berkulit putih mulus dan berbodi menggairahkan. Sebetulnya ada sih cowoknya. Tapi usia mereka masih dibilang terlalu kecil. Menurutku umur mereka berkisar antara 7-10 tahun. So, mereka pasti nggak tahu apa apa kalau kakak-kakak mereka yang cakep cakep aku ‘kerjai’ apalagi di situ tidak ada penjaga kolam renangnya. Whaaoo, the greatest chance.
Aku pun segera ganti baju renang di kamar mandi pria. Setelah berganti baju aku melakukan pemanasan ala Ninjitsu, beladiri Ninja Jepang. So, kontan saja aku langsung jadi pusat perhatian para cewek cewek yang berenang di situ. Mereka yang semula sibuk berenang kian kemari ataupun yang sedang bermain main dengan air ditepi kolam menjadi terpukau akan gerakan pemanasan yang aku lakukan. Karena gerakan yang aku lakukan ini memang tergolong sulit dan sangat ekstrem serta bisa berakibat fatal jika tidak dilakukan dengan benar.
Pertama tama, aku berlari lari kecil mengelilingi kolam sebanyak lima kali, setelah itu aku mulai melemaskan kakiku dan mulai melakukan salto, roll, dan aneka macam gerakan berbahaya lainnya termasuk lompat harimau. Itulah hebatnya Ninjitsu, semua tehnik beladiri yang membahayakan bisa dilakukan tanpa matras. Jadi jangan heran bila para TNI bisa melakukan gerakan roll depan dan roll belakang dengan cepat tanpa beralaskan matras sedikitpun karena mereka telah dilatih dengan beladiri Ninjutsu terutama pasukan elit Kopassus.
Setelah puas melakukan pemanasan, aku segera berenang ke sana kemari sambil melihat cewek cewek cakep disekitarku. “Andai bisa ‘kucoba’ vagina mereka semua,” ujarku dalam hati sambil memandang pantat mereka serta payudara mereka yang benar-benar sexy. Tanpa kusengaja aku menabrak temanku yang aku usilin tadi. Aku pun minta maaf dan diapun oke aja. Tapi setelah minta maaf, aku tidak bisa pergi begitu aja. Karena pakaian renang yang digunakan oleh temanku itu tidak sampai menutupi seluruh payudaranya. Kira kira seperempat bagian dari payudaranya itu bisa terlihat dibalik baju renangnya yang cukup ketat. Aku pun tanpa sengaja berdecak kagum sambil memandang payudara temanku itu. Baru kali ini aku lihat payudara cewek beneran. Di depanku lagi.
Aku benar-benar nggak nyangka kalau dia memiliki payudara yang indah dan cukup besar serta menggairahkan. Payudaranya berwarna kuning langsat. Sama seperti warna kulitnya yang mulus itu.
“Whoo, indah sekali,” kataku tanpa sengaja terucap begitu saja dari mulutku.
“Apanya?” kata dia sambil pura pura tidak mengerti.
“Payudara kamu Sar. It’s so big and wonderful,” kataku sambil berdecak kagum.
“Ahh, bisa aja,” kata Sari sambil tersipu malu dan menyibakkan air kemukaku lalu pergi berenang menjauhiku.
“Hhmm.. Aku jadi ingin nyoba punyanya dia nih..” kataku sambil menatap kagum kepada Sari yang sudah berenang menjauh dariku.
Pasti dia masih perawan pantatnya sexy banget sich.. Setelah itu aku mulai berenang sambil melihat para cewek cewek di sekitarku. Sementara itu, teman temanku lagi asyik asyiknya mengadakan adu cepat dalam hal berenang dengan jarak yang lumayan jauh. Kira kira 300 m. Bagiku permainan itu kurang seru. Mending ngegodain cewek cewek. Siapa tahu bisa dapat dan bisa diajak ber ‘ohh-yess’ ria, istilah para siswa siswi SMU kami untuk mengatakan hubungan seks.
Setelah selesai berkeliling kolam renang, kulihat ada seorang cewek yang duduk sendirian di pinggiran kolam sambil memainkan air dengan kakinya yang indah. Dari tatapan matanya ke kolam renang bisa dipastikan bahwa dia sedang memikirkan sesuatu.
“Hai.. Cewek.. Kenalan dong..” kataku memulai perkenalan.
“Hai..” katanya ramah sambil memandangku dengan lembut.
“Hai namaku Laksono. Panggil aku Sony,” kataku sambil mengulurkan tangan.
“Melly Apriana. Panggil aja Melly,” jawabnya sambil membalas uluran tanganku.
Waktu kami berjabat tangan, tangan doi tidak langsung aku lepas. Karena tangannya halus banget serta putih mulus sama seperti bodynya yang menggairahkan. Mungkin karena risih, dia segera menarik tangannya dariku sambil memalingkan mukanya yang memerah.
“Kamu nggak berenang?” tanyaku basa basi sambil beranjak naik dari kolam renang untuk duduk disebelahnya.
“Nggak. Lagi BeTe nih,” kata doi sambil memainkan air kolam dengan kakinya yang indah.
“Kenapa sih? Cakep cakep kok BeTe. What’s the problem? Mungkin aku bisa bantu mecahin masalahnya,” kataku untuk berusaha memperakrab hubungan kami.
“Itu tuh, pelajaran kimiaku selalu dapat angka merah. Aku sudah ikut les ke LBB Ganesha Operation tapi aku tetep nggak paham walaupun sudah tanya ke tentornya berkali kali.” jawab doi sambil menyibakkan rambutnya yang diterpa angin.
“Wah, cakep banget dia kalau lagi begitu. Ketiaknya putih mulus. Jadi nafsu nih,” pikirku sambil menelan ludah.
Bayangkan saja, siapa yang nggak nafsu kalau sudah ada cewek cakep, putih mulus, sintal, padat berisi, dan tinggi semampai duduk bersebelahan dengan kita dan hanya dipisahkan oleh jarak yang kurang dari 30 cm..
“Kamu kelas berapa?” tanyaku sambil memandang wajahnya yang begitu ayu mempesona.
“Kelas satu, sekarang naik ke kelas dua,” jawabnya sambil tersenyum ke aku.
“Kamu les di Ganesha yach? Sama dong..” kataku sambil ikutan mainin air.
“Benar?? Kamu beneran? Kamu kelas berapa?” tanyanya seakan tak percaya sambil menatapku langsung.
Wah benar-benar ayu parasnya. Jadi nafsu nich..
“Sama kayak kamu,” kataku sambil memandang wajahnya.
“Kamu gelombang berapa? Kok kita nggak pernah ketemu?” tanya doi penasaran.
“Gelombang dua,” jawabku singkat.
“Sama donk. Kok nggak ketemu yach. Kamu di GO mana?” tanya doi sambil menatap wajahku terus menerus.
Wah jadi geer nich. Aku ingin cepet cepet ngerasakan vagina miliknya. Tapi aku tahu, untuk mendapatkan itu memerlukan proses yang panjang dan melelahkan.
“Sidosermo Indah,” jawabku sambil menatapnya balik.
“Oo, pantes nggak ketemu, aku khan di GO Jimerto. Oh ya, kamu sekolah dimana?” tanya doi yang mulai penasaran sama aku.
“SMU Negeri 10. Kamu?”
“SMU Santa Maria.”
Oo, pantes dianya cakep banget. Anak sekolah sana, ceweknya kan terkenal cakep cakep dan sexy sexy.
“Rumah kamu dimana?” tanyaku agar tidak kehilangan jejaknya.
“Jimerto. Kamu?”
“Jemur Sari”
“Jimerto mana sich aku punya teman yang rumahnya di sana juga lho,” pancingku untuk mendapatkan alamat rumahnya.
“Ohh ya. Aku di Jimerto VII/5,” kata doi sambi tersenyum ramah.
Wah cewek ini sudah cakep, ramah, dan juga enak diajak bicara. Dia benar-benar cewek tipeku. Hanya saja suku bangsa kami berbeda. Dia keturunan Cina sedangkan aku Jawa. Tapi biarpun begitu dia itu benar-benar cakep dan sexy lagi.
“Kamu sudah punya pacar belum?” tanyaku ingin tahu.
“Belum, kenapa sih?” tanya doi sambil memandangku.
Wih nggak kebayang, deg degan juga waktu itu. Bayangin aja, cewek secakep kayak dia belum punya cowok. Apa sih kekurangannya. Sebetulnya dia itu lebih dari cukup. Bahkan bisa dikatakan cukup menarik. Pantat oke, payudara oke, tinggi boleh, penampilan oke, rambut oke, wajah oke, mau apalagi?
“Lagi kosong dong,” kataku menggodanya.
“Iya nih.. Kamu gimana?” tanya doi sambil memandangku.
“Sama,” jawabku singkat.
Doi hanya membalasnya dengan senyuman simpul yang cukup indah.
“Ehh, tunngu bentar ya aku mau ke toilet dulu. Kamu tunngu aja di sini nanti kita ngobrol lagi, oke?” kata doi sambil memandangku mesra.
“Oke.”jawabku sambil memandangnya sampai dia menghilang ke toilet wanita.
Wao, caranya berjalan benar-benar ingin membuatku mencobanya. Pantatnya yang sexy dan padat bergoyang kiri kanan, kiri kanan, kiri kanan. Dan kakinya yang indah itu menjulang ramping. benar-benar sexy anak itu, kataku dalam hati.
Karena sudah nafsu segera saja aku masuk ke toilet untuk mencarinya. Apalagi di situ tidak ada penjaganya.
“Melly.. Mel.. Kamu dimana Mel?” kupanggil namanya dengan perasaan was was juga.
Sebab dimana mana cowok khan tidak boleh masuk ke toilet cewek, begitupun sebaliknya. Tiba tiba aku melihat ada satu pintu diruang ganti yang tertutup. Sementara yang lain terbuka termasuk toiletnya. Aku yakin pasti itu Melly. Segera saja aku mendekat.
Walaupun diselimuti oleh rasa takut yang berdebar debar, aku tetap akan melanjutkan niatku. Karena aku sudah sangat nafsu sama dia. Semakin dekat semakin terdengar suara Melly yang sedang mendesah desah, persis seperti suara cewek yang mendesah desah karena kenikmatan.
“Ohh.. Ah.. Ach.. Oh.. Ohh.. Yes.. Oh.. Ah.. Yess.. Oh..”
Karena sudah sangat penasaran segera saja aku menerobos pintu itu dengan cara merangkak lewat bawah. Kebetulan pintu ruang gantinya hanya sebatas dada sampai kaki. Jadi kepala dan kaki bisa terlihat dari luar. Dan aku menerobos masuk lewat lubang dibawahnya.
Ahh, aku benar-benar tak percaya akan penglihatanku sendiri. Dia sedang duduk dimeja kecil tempat meletakkan pakaian dengan keadaan telanjang bulat sambil menggosok gosok vaginanya dengan jarinya secara cepat sambil memejamkam mata dan mendesah desah kenikmatan. Tampaknya dia sedang asyik bermasturbasi ria. Sampai sampai waktu aku panggil berkali kali dia tak menyahut. Mungkin karena dia sedang keasyikan menikmati masturbasinya.
“Mmff.. Achh.. Ohh.. Mmff..” suara itu keluar dari mulutnya begitu saja dan tubuh Melly mengejang ngejang kenikmatan dan keluarlah cairan yang merembet dari dalam vaginanya menuju ke luar. Tampaknya dia baru saja mengalami orgasme. Setelah dia mengalami orgasme yang hebat, barulah dia sadar kalau aku sudah di depannya dan daritadi aku sudah memperhatikannya bagaimana dia bermasturbasi dan mengalami orgasme yang dahsyat.
“Lhoo.. Kok kamu bisa ke sini sih. Ini khan toilet cewek. Kamu kok masuk seenaknya aja sich. Ayo keluar!,” teriak doi terkejut sambil menutupi kedua payudaranya dan vaginanya dengan tangannya.
“Hei tunggu dulu Mel. Oh ya, ngomong ngomong orgasme kamu tadi gimana enak nggak? Kelihatannya kamu mengalami suatu orgasme yang hebat tuh,” kataku sambil memandang keindahan tubuhnya yang tidak ditutupi oleh sehelai benang pun.
“Ayolah Mel. Jujur aja. Kamu kok masturbasi sich?” tanyaku sambil memandang wajahnya yang mulai memerah.
“Itu bukan urusanmu. Sekarang keluar dari sini!,” hardik doi.
“Kamu nggak perlu berkata begitu. Ayolah, mengaku sajalah,” kataku sambil mulai mendekap tubuhnya dan menciuminya.
“Ok, aku tadi bayangin kamu lagi bersetubuh sama aku waktu masturbasi. Habis kamu cakep sich,” kata doi sambil mulai membalas ciuman ciuman mautku.
“Oh ya. Kenapa kamu nggak bilang terus terang,” kataku terkejut sambil menghentikan ciumanku ke seluruh wajahnya.
“Karena aku malu. Aku malu mengatakannya kalau aku suka kamu. Apalagi setelah aku mendengar kalau kamu belum punya pacar,” kata doi sambil menundukkan kepala dengan muka yang mulai memerah.
“Hei kamu nggak perlu berbuat seperti itu. Kamu bisa ngomong langsung ke aku. Aku nggak apa apa kok,” rayuku sambil meremas remas payudaranya yang menggairahkan.
“Mel, aku sebetulnya juga suka kamu, tapi aku malu ngomong ke kamu. Kamu cakep banget Mel. Kamu cewek yang sexy dan sensual. Maukah kau jadi pacarku?” kataku sambil memandangnya serius.
“Tentu Say,” jawabnya sambil mencium bibirku.
Oh god, akhirnya kudapatkan juga cewek ini. Cewek cakep impianku.
“Mulai sekarang kamu nggak perlu melakukan masturbasi dan ngebayangin sedang bersetubuh denganku, Mel. Mulai sekarang kita akan bersetubuh sungguhan.”kataku sambil mulai merenggangkan kedua pahanya.
Tetapi dengan cepat doi merapatkan pahanya kembali dan menggelengkan kepalanya.
“Kenapa Mel? Ayo kita lakukan. Ini sebagai perwujudan cinta kita Mel.” rayuku sambil meremas remas payudaranya.
“Bukannya aku nggak mau Son, tapi aku masih perawan. Aku belum pernah berhubungan seks. Aku takut sakit,” kata doi sambil memelukku dan memberi aku ciuman di pipi.
“Tenang Mel, sakitnya cuma sebentar dan sekali ini aja kok. Untuk selanjutnya sudah nggak sakit lagi. Aku akan melakukannya dengan hati hati,” kataku dengan penuh kasih sayang.
“Kamu janji ya?” kata doi sambil memandangku serius.
“Tentu Mel. I love you honey,” kataku sambil meregangkan pahanya.
Tampaknya vaginanya Melly masih utuh. Berarti dia masih perawan. Oh god, apa yang harus kulakukan. Haruskah kuperawani dia. Aku sebetulnya nggak tega, tapi karena sudah nggak kuat nahan nafsu, segera saja kugosok gosok vaginanya dengan jariku.
“Ahh.. Ohh, achh.. Sonn.. Ahh.. Ohh.. Yes.. Kamu.. Na.. Kkal.. Ahh.. Ohh.. Yes.. Oh.. Yes.. A.. Yo.. Mas.. Suk.. Kin.. Dong” kata doi sambil mengeliat geliat karena nikmat bercampur geli.
Jujur aja, aku melakukan itu untuk mengetahui dimana lubang vaginanya. Karena baru kali ini aku bersetubuh. Aku nggak tahu harus dimasukkan kemana. Tanpa kusengaja jari tengah tanganku masuk secara tak sengaja kesebuah lubang didaerah vaginanya. Mungkin inilah lubangnya. Karena waktu jariku masuk ke sini, Melly makin keenakan dan ngomong.
“A.. Yo.. Yach.. Situ.. Si. Tu.. Masukin kesitu..” kata Melly sambil memejamkan mata erat sekali.
“Ok, lets do it,” pikirku.
Segera kulepas celanaku dan penisku pun langsung menyembul keluar. Tampaknya penisku sudah terlalu lama ‘on’ nya. Jadi ukurannya sekarang sudah benar-benar gede. Segera saja kuregangkan kakinya dan Mellypun hanya memejamkan mata menunggu kenikmatan yang akan menimpanya. Lalu kumasukkan penisku ke vaginanya yang sudah berlendir karena dia tadi melakukan masturbasi. Dari dalam vaginanya tercium bau harum yang khas. Tampaknya harapanku untuk memasukkan penisku ke dalam vaginanya tidak berhasil dan doi pun menjerit keras banget.
“Arrgghh, sakit.. sakit.. Hati hati..” teriak doi.
Akupun jadi bingung. Aku takut semua cewek yang di luar masuk kemari dan menemukanku sedang bersetubuh dengan Melly, bisa gawat nih. Maka itu segera kuhentikan mendorong penisku ke dalam vaginanya Melly dan mulai mencium bibirnya sambil mempermainkan lidahnya dengan lidahku. Diapun tampaknya sangat senang dengan permainan lidahku. Secara perlahan lahan dia ikut merespon permainan lidahku. Setelah dia mulai tenang. Segera kusambar pakaian renangnya dan meyuruhnya untuk menggigitnya untuk menahan sakit.
“Mel, kamu kalau sakit, gigit ini yach,” kataku sambil memasukkan bagian tali dari pakaian renangnya ke mulutnya.
Segera saja kudorong pelan pelan. Dan Mellypun semakin keras menggigit pakaiannya sambil menggeleng gelengkan kepalanya dengan lemah. Aku tahu dia merasakan sakit yang amat sangat karena vaginanya memang benar-benar sempit dan nikmat. Aku sampai memejamkan mata untuk lebih menikmati kerapatan dan kehangatan vaginanya. Setelah ¾ bagian penisku masuk aku merasakan suatu lapisan yang agak sulit ditembus. Tapi aku nggak mau sulit sulit mikirin cara untuk nembusnya. Khan Melly sudah nggak akan teriak lagi.
Aku pun segera memundurkan penisku sedikit dan menghunjamkannya ke dalam vaginanya. Akhirnya berhasil juga kurobek selaput daranya dan ohh.. Vaginanya nikmat sekali. Benar-benar vagian perawan. Benar-benar mencengkeram dan sempit serta lembut. Segera saja kumaju mundurkan penisku di dalam vaginanya dan baju yang digigit oleh Melly kulepaskan. Dan sejak baju yang digigitnya aku lepaskan, dia sudah nggak menjerit jerit lagi. Dia justru mendesah desah kenikmatan sambil memejamkan matanya.
“Ohh.. Ahh.. Ah.. Ah.. Ahh.. Ahh.. Ah.. Ahh.. Ohh.. Yess.. Ahh.. Ach.. Achh.. Ahh,” doi mendesah desah dengan tubuh yang sudah mulai memanas dan berkeringat.
Sementara aku pun tak mau menyia nyiakan kesempatan ini. Karena baru sekarang aku melakukan seks dan rasanya, benar-benar ueenak sekali. Lebih enak daripada kita onani sendiri. Aku pun mulai menciuminya sambil meremas remas kedua payudaranya yang berukuran lumayan. Sementara itu penisku tetap saja keluar masuk menjelajahi vagina Melly yang masih sempit. Aku pun mulai memeluknya dengan erat sambil kuelus elus punngungnya yang mulus itu. Setelah beberapa menit, tiba tiba kurasakan aku sudah nggak sanggup menahan muatan penisku lagi.
Langsung aja kupercepat genjotanku di dalam vagina Melly dan Mellypun mulai mendesah desah nikmat sambil mengelus ngelus pungungku dan menciumi leherku sambil bilang I love you berkali kali. Aku sudah nggak ngerti berapa kali dia ngomong begitu. Yang jelas suaranya sangat menggairahkan.. Dengan suara suara itu aku jadi bersemangat dalam menggenjotnya. Tapi tak lama kemudian tubuh Melly tiba tiba saja mengejang. Tubuh yang indah dan menggairahkan itu mengejang ngejang. Dan Melly mulai memelukku erat sambil memejamkan mata yang sangat erat. Tampaknya dia sedang mengalami orgasme.
“Mmff.. Mmff.. Acchh.. Achh.. Mmff,” kata kata itu keluar dari mulutnya dengan suara yang nyaris tak terdengar.
benar-benar menggairahkan suaranya pada saat itu. Dalam vaginanya kurasakan keluar cairan yang hangat. Cairan itu benar-benar membuat vaginanya menjadi semakin becek. Akupun jadi semangat untuk memompanya. Setelah beberapa menit, aku segera memeluk tubuhnya dengan erat dan kusemprotkan spermaku kedasar vaginanya. Aku merasa puas banget saat itu. Bayangkan sudah dapat anaknya dapat pula perawannya. Benra benar beruntung aku.
Setelah aku menyemprotkan seluruh spermaku ke dalam vaginanya Melly. Segera kukecup bibirnya dan kumainkan lidahku didalamnya dan Mellynya meresponnya dengan tenaga yang sangat lemah sekali. Tampaknya dia benar-benar sudah kecapaian. Energinya terkuras setelah bersetubuh denganku tadi. Lima menit kemudian ketika dia sudah sadar, segera kuremas remas payudaranya dan kugigit gigit kecil puting payudaranya yang berwarna merah muda. Sementara itu dia hanya mendesah desah saja dipelukanku.
Akupun mengajaknya berenang dan kukenalkan dia kepada teman temanku. Mereka semua terperangah melihat kecantikan Melly. Setelah itu kamipun pulang ke rumah kami masing masing dan sejak itu aku jadi sering kerumahnya Melly untuk melakukan seks dengannya dan untuk selalu dapat bertemu dengan dia, tempat lesku aku alihkan ke GO Jimerto. Tentunya setelah dapat surat keterangan dari GO Sidosermo.